![]() |
| ilustrasi gambar, Civilciv, 2026 |
Pernah nggak sih kalian perhatikan, setiap kali hujan deras, kota kita seolah-olah berubah jadi "kolam renang" raksasa? Air mengalir deras di jalanan, masuk ke rumah, dan kita cuma bisa menyalahkan drainase yang mampet atau hujan yang terlalu ekstrem.
Tapi, pernah nggak terpikir: "Kenapa airnya nggak masuk ke dalam tanah aja sih?"
Nah, di dunia Teknik Sipil, ada konsep keren yang lagi naik daun namanya Sponge City atau Kota Spons. Yuk, kita bedah santai!
Apa Itu Sponge City?
Sederhananya, Sponge City adalah konsep kota yang dirancang untuk menyerap, menyimpan, menyaring, dan membersihkan air hujan secara alami. Alih-alih membuang air secepat mungkin ke laut lewat selokan beton (yang seringnya malah bikin antrean air alias banjir), kota spons justru "menghisap" air itu ke dalam tanah.
Ibarat spons pencuci piring: kalau kena air, dia menyerap dulu, baru dilepaskan perlahan.
Kenapa Beton Saja Nggak Cukup?
Selama ini, kita terbiasa dengan konsep Drainase Konvensional: buat saluran semen yang kaku, lalu alirkan air ke sungai. Masalahnya:
Kapasitas Terbatas: Kalau hujannya "lebay", salurannya nggak nampung.
Tanah "Haus": Karena semua permukaan ditutup semen dan aspal, air tanah kita nggak pernah terisi ulang. Efeknya? Penurunan muka tanah (land subsidence).
Solusi Estetik: Bukan Sekadar Selokan!
Yang bikin Sponge City ini menarik untuk dibahas bareng teman-teman adalah bentuknya yang nggak "teknik banget" tapi kelihatan cantik di mata kota:
Pavement Berpori: Bayangkan jalanan atau trotoar yang bisa ditembus air. Air nggak menggenang, tapi langsung hilang ke bawah.
Taman Retensi (Rain Gardens): Taman cantik di sudut kota yang sebenarnya berfungsi sebagai bak penampung air alami saat hujan.
Green Roofs: Atap gedung yang ditanami tumbuhan untuk menahan air hujan sebelum menyentuh tanah.
Mungkinkah di Indonesia?
Tantangannya pasti ada, mulai dari pembebasan lahan sampai biaya konstruksi awal. Tapi, dengan kondisi kota-kota besar kita yang makin sering terendam, konsep ini bukan lagi sekadar "pilihan", tapi "kebutuhan".
Beberapa wilayah di Indonesia sudah mulai menerapkan konsep Low Impact Development (LID) yang mirip dengan ini. Kalau ini diterapkan secara masif, kita nggak cuma bisa ngurangin banjir, tapi juga punya cadangan air tanah yang melimpah dan kota yang jauh lebih hijau.
Menurut kalian, kota mana di Indonesia yang paling butuh jadi "Sponge City" duluan? Atau jangan-jangan, rumah kalian sendiri sudah menerapkan konsep ini dengan punya banyak biopori? Tulis di kolom komentar ya!


