![]() |
| Gambar Ilustrasi, Civilciv, 2026 |
Nah, ada satu inovasi material yang menarik banget buat dibahas: Pervious Pavement (atau sering disebut beton/paving berpori). Material ini didesain khusus agar bisa "minum" air hujan. Yuk, kita bedah!
Apa Itu Pervious Pavement?
![]() |
| greeners.co, Pervious Pavement, 2026 |
Secara fisik, bentuknya mirip beton atau paving biasa. Bedanya, material ini sengaja dibuat dengan membuang butiran pasir halus dari campurannya. Hasilnya? Terbentuk rongga-rongga udara yang saling terhubung di dalam beton tersebut.
Ibaratnya, kalau beton biasa itu seperti tembok padat, pervious pavement ini seperti saringan kopi. Air yang jatuh di atasnya nggak akan menggenang, tapi langsung "terhisap" masuk ke bawah.
Kelebihan: Kenapa Kita Butuh Ini?
- Bye-Bye Genangan: Air hujan langsung meresap ke bawah, jadi nggak ada lagi risiko hydroplaning (kendaraan tergelincir karena genangan air).
- Isi Ulang Air Tanah: Daripada air dibuang ke laut, material ini membiarkan air hujan kembali ke dalam tanah (groundwater recharge). Ini penting banget buat mencegah penurunan muka tanah di kota besar.
- Kota Jadi Lebih Adem: Beton padat biasanya menyimpan panas. Karena punya rongga udara dan kelembapan, material ini membantu mengurangi efek Urban Heat Island (suhu kota yang menyengat).
Kekurangan: Apa Tantangannya?
- Kekuatan Terbatas: Karena banyak rongga, material ini nggak sekuat beton padat. Jadi, belum cocok buat jalan raya yang dilewati truk kontainer atau bus besar.
- Risiko Mampet (Clogging): Musuh utamanya adalah debu dan lumpur. Kalau porinya tersumbat kotoran, kemampuannya menyerap air bakal hilang.
Penerapannya di Indonesia: Sudah Sampai Mana?
Di Indonesia, penerapan permeable pavement sebenarnya sudah mulai bermunculan, meski belum masif:
- Trotoar Modern: Beberapa proyek revitalisasi trotoar di Jakarta dan kota besar lainnya sudah mulai menggunakan blok paving berpori atau beton pervious untuk area pejalan kaki.
- Area Parkir & Ruang Terbuka Hijau (RTH): Banyak kafe kekinian atau taman kota yang menggunakan material ini agar area parkirnya nggak becek saat hujan.
- Hambatan Lokal: Masalah terbesar di Indonesia adalah perawatan. Karena tingkat polusi dan debu yang tinggi, paving ini sering "mampet" dalam hitungan tahun kalau nggak disemprot air tekanan tinggi secara rutin.
Menurut kalian, area mana di sekitar rumahmu yang paling cocok diganti pakai paving "haus" ini? Share di kolom komentar ya!


.png)


